Tipografi, Seni Trendy yang Pernah Booming pada Abad ke-8

Seni tipografi atau dikenal dengan teknik menata huruf sudah ada sebelum Times New Roman ada di layar monitor komputer. Jauh sebelum masa teknologi, bentuk huruf ini mengalami masa kejayaan di abad ke-8 SM. Bagaimana dengan sekarang?

TIPOGRAFI tak hanya fokus pada jenis dan ukuran huruf, namun mencakup teknik pemilihan dan pengaturan tulisan agar terlihat rapi dan menarik. Tata letak tulisan pada bidang desain pun ikut diperhitungkan. Ilmu itu kini kian meluas penggunaannya. Tak hanya dalam desain grafis, desain situs, aneka media promosi seperti famplet, desain produk hingga keperluan pribadi mulai dibutuhkan.

“Seni tipografi nggak cuma mengubah atau memodikasi huruf menjadi sebuah karya seni, tapi bisa menyampaikan atau merepresentasikan pesan yang ingin disampaikan,” ujar Handaru Tesla, praktisi tipografi.

Dijelaskannya, Tipografi bisa memperlakukan huruf-huruf dengan cara yang berbeda dan menghasilkan makna yang berbeda. Seperti hal-hal kecil seperti memodifikasi garis-garisnya, tebal-tipis huruf, serta membelokkan ujung tulisan bisa merepresentasikan hal-hal yang berbeda dari sebuah tulisan. “Gaya modern-klasik, bahagia atau sedih ditentukan dengan satu garis saja,” jelasnya.

Gaya tipografi tak sekadar memodifikasi huruf, namun sering kali menggabungkan huruf dengan gambar-gambar agar hasil karya tak monoton dan membosankan. Handaru memaparkan, meskipun pada dasarnya tidak ada aturan baku dalam seni tipografi, namun tipografi bertujuan untuk mengatur elemen visual seperti huruf agar mudah ditangkap serta dimengerti oleh si penglihat.

“Tipografi bisa diaplikasikan di berbagai media, kayak papan, kaca, dinding. Yang lagi tren memang untuk interior hunian,” lanjut mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) STMIK CIC Cirebon.

Ada sesuatu khas yang ditonjolkan yakni humor atau kadang ironi ditambahkan ke dalam unsur tipografi. Hasilnya, dengan font-font menarik, tipografi mampu kembali merajai fashion masa kini. “Sekarang banyak berseliweran yang memakai paduan kaos, hoodie, jaket kental unsur tiprografi, dan saya rasa tipografi tren yang tak pernah mati,” tuturnya.

Pecinta tipografi lainnya, Raditya Nugeraha mengatakan, untuk memahami tipografi, seorang desainer grafis harus memahami konsep-konsep fundamental. Salah satunya size atau ukuran. Menurutnya, ukuran setiap jenis huruf berbeda satu sama lain. Ada font bentuknya besar dan lebar, ada juga yang tipis dan kecil. Dua font yang berbeda meski diketik dengan ukuran yang sama tidak selalu terlihat berukuran sama. Sebagai contoh, font Times New Roman dan Arial ketika diketik dengan ukuran 12pt, font Times New Roman akan terlihat lebih kecil karena kedua font ini memang memiliki tinggi yang berbeda. “Sesuaikan ukuran huruf dengan desain yang diinginkan,” katanya.

Selain size, ada juga leading atau jarak spasi yang ada antara tiap baris tulisan. Agar tulisan mudah dibaca, saran dia, ukuran leading lebih besar daripada ukuran font-nya. “Supaya mudah dibaca, hindari jarak antar baris terlalu dekat atau terlalu jauh,” sarannya.

Kemudian ada tracking dan kerning. Tracking dan Kerning adalah pengaturan jarak antar huruf. Dijelaskannya, tracking mengatur dan mengaplikasikan jarak antar huruf yang sama secara general. Nah, terkadang jarak yang dipukul rata ini membuat tulisan terlihat timpang, artinya sebagian terlihat cukup, tapi sebagian lainnya terlihat terlalu dekat atau jauh.

“Untuk itu perlu ada kerning, karena fungsinya untuk mengatur jarak antar sepasang karakter saja. Sehingga dapat menyesuaikan jarak sesuai kebutuhan dan membuat suatu kelompok karakter terlihat konsisten dalam hal jarak antar hurufnya,” pungkasnya.

Sumber: radarcirebon.com